Archive for the ‘kompas’ Tag

Saldo di Mandiri berkurang

Saya nasabah Bank Mandiri cabang Pasar Rebo, Jakarta Timur (Nomor rekening: 129 000 130 7120). Saya datang tanggal 20 February 2008 untuk mengecek saldo tabungan yang pada tanggal 16 November 2006 tercatat Rp. 3.272.402,79, tetapi pada tanggal 20 February 2008 ternyata saldo tercatat Rp. 1.236.832,33. Padahal, dari tanggal 16 November 2006 sampai dengan kedatangan terakhir itu tidak pernah saya cetak buku tabungan karena kesibukan.

Baru pada tanggal 20 Februari 2008 saya datang ke Bank Mandiri cabang Pasar Rebo, Jakarta. Sata sudah menanyakan kepada dua petugas di layanan pelanggan (Saudari Manci dan Saudari Diah) tentang saldo tabungan yang semakin berkurang dengan jumlah yang tidak sedikit, yaitu Rp. 2.075.176,04. Dijawab, karena perhitungan kumulatif tidak pernah cetak saldo. Apakah sampai sebesar itu nilai kerugian yang harus ditanggung ?

Kemudian dijanjikan kembali lagi selama satu minggu untuk mengetahui lebih lanjut. Seminggu kemudian saya datang lagi ke bank tersebut, tapi ternyata sampai saat ini tidak ada juga laporan saldo yang dijanjikan.

Dengan kejadian ini mohon perhatian dan penjelasan dari yang berwenang di Bank Mandiri cabang Pasar Rebo agar tidak merugikan nasabah.

Sulistiyowati
Jalan Centex gang Garuda
RT 005 RW 010, Ciracas, Jakarta

Di post di Redaksi Yth Kompas

Promo Carrefour tidak siap

Kami sekeluarga ke Carrefour Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (20/3), sekitar pukul 13:00 karena tergiur iklan Carrefour di Kompas (19/3) tentang semua alat listrik dan pertukangan diskon 40 persen dan ada 10 pesen diskon dari total belanja yang nilai tertera di setruk dan bisa digunakan untuk berbelanja kembali. Suami saya membeli peralatan pertukangan dengan label harga sebelum diskon, dan dua potato chip merek Pringles kaleng dengan tulisan harga kedua diskon 50 persen.

Saat dikasir ternyata alat-alat pertukangan tidak ada diskon otomatis dan juga potato chip tetap harga normal. Setelah dikomplain petugas kasir mengatakan, diskon tetap berlaku, tetapi sistem komputer belum di up-date lalu menyarankan agar membayar penuh dengan total Rp. 660.700, diskon akan dihitung dan kelebihan yang dikembalikan oleh layanan pelanggan dibagian informasi yang hanya ada lima petugas sangat tidak siap dengan promo tersebut.

Sata dilayani oleh salah seorang dan setelah menunggu 20 menit, ternyata belum juga memproses diskon. Menurut yang bersangkutan, masih bingung karena belum lama bekerja. Lalu menyerahkan setruk saya kepada rekannya yang ternyata tidak juga memberikan hak saya. Setelah saya komplain karena sudah menunggu 20 menit lagi petugas itu mengatakan diskon 40 persen akan memakan waktu yang lama karena komputer belum up-date.

Yang bersangkutan harus bolak balik cek barang terlebih dulu, lalu menganjurkan untuk batal saja dan uang kembali. Karena saar itu saya membawa dua anak balita dan satu bayi yang terus menanggis karena tidak nyaman, saya menerima usulan tersebut. Ternyata proses batal harus menunggu 20 menit lagi. Saya sudah lelah dan kesal, juga anak-anak sudah sangat rewel. Akhirnya setruk pembatalan diberikan setelah menunggu total satu jam.

Nina Aryani
Gading Pelangi Indah C 3B/3
Jakarta Utara

Di post di Redaksi Yth Kompas 

Sistem kartu kredit ABN-AMRO

Kejadian bermula ketika saya ditawari setengah memaksa pada tanggal 20 Januari 2008 di Superindo Arteri Kedoys, Jakarta barat, untuk membuat kartu kredit ABN-AMBRO dengan cara setruk pembayaran diamnil dan di fotokopi oleh sales ABN-AMBRO. Dijanjikan akan diberikan kartu platinum dengan bebas iuran seumur hidup.

Kurang dari seminggu datang kartu, tetapi kartu jenis gold. Saya menelepon ABN-AMBRO dan menyatakan tidak mau karena kartu gold tidak bebas iuran sehingga kartu tidak saya aktifkan. Kemudian saya di telepon ABN-AMBRO sekitar empat kali pada hari yang berbeda-beda yang menanyakan, apakah kartu sudah di terima dan meminta agar mengaktifkan. Namun, saya jelaskan tidak mau karena kartu gold.

Tanggal 23 Februari 2008 saya di telepon oleh ABN-AMBRO yang mengatakan, pada hari itu akan datang kurir yang akan mengambil kartu gold lengkap dengan amplopnya untuk di proses menjadi kartu jenis platinum. Kurir datang dan kartu diambil.

Pada 27 Februari 2008 ada telepon dari ABN-AMBRO yang mengatakan, kartu kredit gold atas nama saya dipakai untuk belanja dan penarikan tunai. Saya jelaskan tidak dipakai dan kartu sudah dikembalikan untuk di proses menjadi kartu platinum. Tiba-tiba tanggal 8 Maret 2008 datang tagihan ke rumah saya sebesar Rp. 15.203.565 atas nama pemakaian kartu kredit ABN-AMBRO.

Kemudian saya menelepon ke Phone Banking ABN-AMBRO untuk megajukan komplain, tetapi malah menyalahkan saya dan tidak memberikan penyelesaian ap-apa. Pada tanggal 13 Maret 2008 saya telepon Phone Banking lagi untuk menanyakan hasil investigasi, dan dijelaskan sudah ditutup dengan hasil saya yang harus membayar tagihan tersebut.

Saya sangat keberatan dengan cara kerja ABN-AMBRO yang seenaknya menututp kasus dan menyalahkan saya. Seharusnya ABN-AMBRO menyelidiki pihak internalnya sendiri dan mengumpulkan bukti-bukti.

Lim Siau Hun
Jalan Surya Wahana I
RT 007 RW 002, kebon Jeruk
Jakarta Barat

Di post di Redaksi Yth Kompas 

Tiket masuk TMII dimalam hari

Pada sabtu malam, 8 Maret 2008, kami menghadiri resepsi pernikahan di Pendopo Agung Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Ketika masuk di pintu gerbang TMII memperlihatkan surat undangan dan diwajibkan membayar Rp. 3.000 hanya untk parkir mobil.

Hari sabtu malam, 22 Maret 2008 kembali saya menghadiri resepsi pernikahan di tempat yang sama. Kali ini di pintu gerbang terjadi kemacetan.

Kenapa macet? Setelah kami memasuki pintu gerbang diharsukan membayar Rp. 10.000. Mungkin setiap tamu juga mempertanyakan sehingga terjadi kemacetan. Ketika kami bertanya kepada petugas dipintu gerbang masuk, diawab bahwa pembayaran masuk merupakan peraturn baru dari manajemen TMII.

Beberapa waktu lalu kami juga sering menghadiri acara resepsi pernikahan di Pendopo Agung Sasono Utomo TMII. Namun, ketika melewati pintu gerbang masuk hanya dengan memperlihatkan surat undangan langsung bisa masuk dan lalu lintas tidak macet. Apakah keharusan membayar uang tanda masuk pada malam har merupakan kebijakan TMII atau hanya kebijakan oknum tertentu?

Kalau merupakan kebijkan TMII perlu dijelaskan kepada khalayak, kalau masuk ke TMII pada malam hari tetap membayar Rp. 10.000 karena pada malam hari juga ada pertunjukan atau kegiatan seperti siang hari. Kami bisa memahami mungkin untuk menutupi biaya pemeliharaan. Namun, kalau merupakan ulah oknum tertentu, perlu dilakukan penghasutan demi menjaga citra TMII.

Darhansyah
Pondok Kopi D9, Duret Sawit
Jakarta

Di post di Redaksi Yth Kompas