Archive for the ‘Bank’ Category
Penipuan Atasnama Mastercard – 2
Kira2 th 2007 saya jg ditelp oleh seseorang yang bernawa Widya dan Riko (marketing) dari PT Nusantara Mitra Indonesia yang berkantor Pusat di Ruko Duta Mas Fatmawati Blok D2 No. 1 Jakarta Selatan. Mengaku mendapat rekomen dan memberikan voucher kpd saya. Setelah menjelaskan bla…bla…bla…. saya dibantu utk validasi data. Saya masih ingat benar dalam ingatan saya dia menjelaskan bahwa uang saya bisa dikembalikan utuh tanpa dibebani biaya apapun apabila setelah satu tahun voucher tidak dipakai, dengan cara semua voucher dan kartu dari NMI saya tidak hilang . Tetapi dia jg tidak menjelaskan adanya syarat ataupun surat penjamin utk mencairkan uang saya nanti.
Karena waktu itu saya tidak mau ambil pusing krn penjelasan Widya sangat menarik dan uang dpt kembali, itung2 saya bs nabung. Setelah menutup telp, teman sy mendengar pembicaraan saya via telp dgn NMI, dia memberikan saran utk membatalkan saja krn dia pernah mendapat pengalaman buruk dgn produk sama, setelah mendapat penjelasan dr teman langsung sy cancel, tetapi ditolak dr pihak NMI dgn alasan kurir sudah jln utk mengirimkan voucher, dan mereka NMI berusaha meyakinkan saya kembali bahwa uang dpt kembali dgn utuh.
Setelah kurir datang saya menayakan kembali mslh uang bs kembali dan kurir pun meng “iyakan” jawabannya, kemudian saya cuman diminta menggesek citibank card saya dan dibebani sebesar Rp 1.950.000,- Setelah satu tahun voucher tidak saya pakai maka saya mencoba utk mengambil kembali uang saya. Saya menelepon ke nomer (7227831), ternyata telp yg sy hubungi utk sementara tdk dpt dihubungi. Setelah saya coba berulang kali ternyata tetap tidak bs dihubungi. Akhirnnya saya telp ke 108, dapatlah alamat dan no telp (7396651) baru (ternyata mereka baru pindah). Saya sempat tanya knp pindah tidak konfirmasi padahal no hp sy tidak ganti dan sy belum pindah kerja. Mereka menjawab dengan alasan yg tdk memuaskan.
Setelah ketemu kantornya saya bertemu dgn Elli (pegawai NMI), saya meminta uang saya kembali, tetapi dia (Elli) menjawab uang yg sudah masuk NMI tdk bisa dikembalikan, tetapi ada pengecualian apabila saya dipersulit saat akan memakai voucher uang bisa dikembalikan itu jg dgn syarat asalkan ada semacam surat penjamint utk mengembalikan uang tsb. Kemudian dia menanyakan surat yg menyatakan dr Widya utk dpt mencairkan uang saya. Padahal diawal penjelasan Widya tdk memberitahukan kpd saya tentang ketentuan2 yg harus saya miliki saat pengambilan kembali uang saya.
Saat itu sy sudah kesal sekali krn tdk mempunyai bukti yg kuat (bukti saat itu pun hanya pembicaraan via telp dgn Widya. Kemudian saya minta ketemu dgn Widya/Riko, tetapi Elli bilang mereka sudah Resign, lalu bagaimana pertanggung jawaban dr NMI? Elli menjawab krn mereka sudah keluar dr perusahaan itu bukan tanggung jawab mereka (NMI)lagi.
Akhirnya solusi saat itu kartu saya hanya diperpanjang saja, semenjak saat itu sya bertekad akan memakai voucher itu, sya pernah akan memakai voucher utk liburan saya, kemudian sy telp bag. reservasi (7227851)ternyata ga pernah diangkat. Skrg bagaimana saya akan memakai voucher itu jika mereka tdk pernah mengangkat telp. Setelah beberapa bln berlalu saya kecolongan lagi, waktu akan memperpanjang lagi utk th ke 2, ternyata mereka sudah pindah kantor. Saya coba telp 108 lg utk melacak mereka, dapatlah alamatny sama cuman beda blok di Ruko Duta Mas Fatmawati Blok B1 No. 21 Jakarta Selatan Telp. 7396987/7398437 (ditelp masuk tetapi tidak ad yg mengangkat), setelah saya datangi ternyata kosong. Saya cek ulang ke kantor lama utk mencari info (mungkin kntr baru tahu kmn pindahny NMI)saya bertemu dgn Pak Didin klo ga salah (pengelola pihak Ruko Duta Mas Fatmawati)dia menjelaskan bahwa NMI sudah pindah sejak liburan sekolah th 2008, dan mereka (NMI) pindah gitu aja tanpa konfirmasi ke pihak pengelola Ruko, sampai kunci kantorny pun tidak diberikan kembali ke pengelola.
Ternyata tidak cuman saya yg mencari NMI, dr Pak Didin jg memberi tahu beberapa hr yg lalu jg banyak org yg mencari NMI, ktny mereka jg korban dr PT. NMI. Saya coba telp 108 lagi dapat alamat lagi PT. NMI di Jl. Pangeran Antasari No. 23 Jakarta Selatan Telp. 75905477/75905205 (keduany tidak dapat dihubungi)tetapi saya belum sempat mendatangi kantornya .Sampai saat ini Kamis, 28 Mei 2009 tidak ada niat baik sedikitpun dari pihak NMI untuk menghubungi saya agar menyelesaikan masalah ini. Bagaimana pertanggung jawaban Elli (NMI)? Tetapi buat saya ini jg menjadi pelajaran yg sangat penting sekali, jgn sampai ada korban2 yg lainnya. Hati2 apabila mendapat telepon dari PT. NUSANTARA MITRA INDONESIA.
Kepada semua Karyawan Terutama Pimpinan PT. NUSANTARA MITRA INDONESIA, Apakah kalian bangga memberi nafkah dan makan keluarga dengan cara bisnis seperti itu?
oleh : eka@citraniaga.com
Penipuan Atasnama Mastercard
Pada 27 Maret 2008 saya ditelepon oleh seseorang yang mengaku bernama Ririn dari PT Nusantara Mitra Indonesia (NMI) yang berkantor di Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Jakarta Selatan. Dia mengaku mendapat rekomendasi Mastercard untuk memberikan voucher kepada saya. Kemudian telepon dialihkan ke orang lain untuk melakukan validasi data. Setelah itu saya dikenakan biaya sebesar Rp. 2.580.000.
Kami lalu menjelaskan bahwa saldo yang kami miliki tidak mencukupi untuk membayar sebesar itu. Tetapi yang bersangkutan mengatakan bahwa saldo mencukupi karena transaksi sudah di debet dan bsia diangsur 3-4 tahun, bebas sesuai kemampuan.
Karena yang bersangkutan ngotot dan mengakhiri pembicaraan, saya berpikir kalau limit kartu saya tidak cukup pasti mereka akan menghubungi saya kembali. Ternyata traksaksi tersebut dipecah-pecah dan dibebankan kedua kartu kredit saya. Kurang lebih dua jam setelah NMI menghubungi, saya menghubungi PermataTel untuk membatalkan dan memblokir transaksi yang masih status pending tersebut.
Menurut pihak NMI, transaksi tersebut tidak bisa dibatalkan lantaran sudah benar sesuai harganya, yaitu : Rp. 2.580.000. Bahkan pihak NMI mengatakan bahwa saya salah persepsi mengenai angsuran yang dibicarakan. Mereka mengatakan bahwa arti bisa diangsur 3-4 tahun adalah beas mengangsur kepihak kartu kredit, sampai 10 tahun juga boleh, mau bayar bunga atau denda atau tidak membayar juga terserah. Pihak NMI juga mengatakan mereka bisa membebankan ke kartu kredit kita manapun secara otomatis, asal di terbitkan oleh MasterCard karena mereka bisa online langsung dengan MasterCard.
Akhirnya saya mengurus masalah ini ke Bank Permata. Saya mengirimkan pembatalan, sanggahan, dan bukti pengembalian kiriman sudah kami sampaikan ke GE Card Center, Bank Permata dan NMI. Namun hingga hari ini transaksi tersebut masih ditagihkan. Ternyata penipuan dengan modus yang sama juga sudah pernah dilakukan NMI dan pernah diterbitkan disurat pembaca salah satu harian nasional Indonesia.
Saya kecewa sekali dengan Mastercard yang memfasilitasi merchant dengan kredibilitas seperti PT NMI dan lembaga perbankan di Indonesia yang membiarkan dan mengayomi pelaku usaha nakal. Sebagai tambahan, sampai hari ini saya sebagai nasabah Bank Permata tidak pernah bermasalah atau terlambat membayar.
Sayangnya pelaku bisnis seperti NMI ini sulit diproses secara hukum, meskipun melanggar KUHPerdata, pidana, bahkan UU No.8/1999 sekalipun. Kalau diadukan ke polisi, justru kita yang sudah korban malah kita yang kerepotan karena proses yang berbelit menghabiskan tenaga, biaya dan pikiran sedangkan NMI bisa melenggang bebas.
Mohammad Nazar Ali
Surabaya
monaz@telkom.netDi post di surat pembaca seputar indonesia
Saldo di Mandiri berkurang
Saya nasabah Bank Mandiri cabang Pasar Rebo, Jakarta Timur (Nomor rekening: 129 000 130 7120). Saya datang tanggal 20 February 2008 untuk mengecek saldo tabungan yang pada tanggal 16 November 2006 tercatat Rp. 3.272.402,79, tetapi pada tanggal 20 February 2008 ternyata saldo tercatat Rp. 1.236.832,33. Padahal, dari tanggal 16 November 2006 sampai dengan kedatangan terakhir itu tidak pernah saya cetak buku tabungan karena kesibukan.
Baru pada tanggal 20 Februari 2008 saya datang ke Bank Mandiri cabang Pasar Rebo, Jakarta. Sata sudah menanyakan kepada dua petugas di layanan pelanggan (Saudari Manci dan Saudari Diah) tentang saldo tabungan yang semakin berkurang dengan jumlah yang tidak sedikit, yaitu Rp. 2.075.176,04. Dijawab, karena perhitungan kumulatif tidak pernah cetak saldo. Apakah sampai sebesar itu nilai kerugian yang harus ditanggung ?
Kemudian dijanjikan kembali lagi selama satu minggu untuk mengetahui lebih lanjut. Seminggu kemudian saya datang lagi ke bank tersebut, tapi ternyata sampai saat ini tidak ada juga laporan saldo yang dijanjikan.
Dengan kejadian ini mohon perhatian dan penjelasan dari yang berwenang di Bank Mandiri cabang Pasar Rebo agar tidak merugikan nasabah.
Sulistiyowati
Jalan Centex gang Garuda
RT 005 RW 010, Ciracas, JakartaDi post di Redaksi Yth Kompas
Sistem kartu kredit ABN-AMRO
Kejadian bermula ketika saya ditawari setengah memaksa pada tanggal 20 Januari 2008 di Superindo Arteri Kedoys, Jakarta barat, untuk membuat kartu kredit ABN-AMBRO dengan cara setruk pembayaran diamnil dan di fotokopi oleh sales ABN-AMBRO. Dijanjikan akan diberikan kartu platinum dengan bebas iuran seumur hidup.
Kurang dari seminggu datang kartu, tetapi kartu jenis gold. Saya menelepon ABN-AMBRO dan menyatakan tidak mau karena kartu gold tidak bebas iuran sehingga kartu tidak saya aktifkan. Kemudian saya di telepon ABN-AMBRO sekitar empat kali pada hari yang berbeda-beda yang menanyakan, apakah kartu sudah di terima dan meminta agar mengaktifkan. Namun, saya jelaskan tidak mau karena kartu gold.
Tanggal 23 Februari 2008 saya di telepon oleh ABN-AMBRO yang mengatakan, pada hari itu akan datang kurir yang akan mengambil kartu gold lengkap dengan amplopnya untuk di proses menjadi kartu jenis platinum. Kurir datang dan kartu diambil.
Pada 27 Februari 2008 ada telepon dari ABN-AMBRO yang mengatakan, kartu kredit gold atas nama saya dipakai untuk belanja dan penarikan tunai. Saya jelaskan tidak dipakai dan kartu sudah dikembalikan untuk di proses menjadi kartu platinum. Tiba-tiba tanggal 8 Maret 2008 datang tagihan ke rumah saya sebesar Rp. 15.203.565 atas nama pemakaian kartu kredit ABN-AMBRO.
Kemudian saya menelepon ke Phone Banking ABN-AMBRO untuk megajukan komplain, tetapi malah menyalahkan saya dan tidak memberikan penyelesaian ap-apa. Pada tanggal 13 Maret 2008 saya telepon Phone Banking lagi untuk menanyakan hasil investigasi, dan dijelaskan sudah ditutup dengan hasil saya yang harus membayar tagihan tersebut.
Saya sangat keberatan dengan cara kerja ABN-AMBRO yang seenaknya menututp kasus dan menyalahkan saya. Seharusnya ABN-AMBRO menyelidiki pihak internalnya sendiri dan mengumpulkan bukti-bukti.
Lim Siau Hun
Jalan Surya Wahana I
RT 007 RW 002, kebon Jeruk
Jakarta BaratDi post di Redaksi Yth Kompas
Nomor cantik XL-Xplore bermasalah
Pada 4 Januari 2008, sata ditawari program Xplore priceplan oleh sdr. Pandi (HP 0817744xxx) yang mengaku dari kantor PT Exceldomindo Pratama Tbk dengan menyodorkan beberapa daftar nomor cantik 10 digit.
Demi keperluan bisnis dan nomor cantik tersebut mudah diingat saya memutuskan untuk menyetujui ikut program tersebut. Saya lalu memilih nomor cantik : 0817 919 7878. Untuk mendapatkan nomor tersebut saya harus membayar biaya Rp. 150.000.
Kira-kira tiga minggu setelah nomor tersebut aktif dan saya pergunakan, suatu hari saya mendapatkan telepon dari debt collector Citibank yang mencari Ny TAN EK LING. Menurut debt collector yang bersangkutan memiliki tunggakan utang di Citibank. Saya sudah berusaha menjelaskan bahwa kartu yang saya pergunakan ini adalah kartu baru dan saya tidak tahu menahu mengenai Ny TAN EK LING. Bahkan saya tidak mempunyai kartu kredit atau urusan perbankan dengan Citibank.
Namun, debt collector tersebut terus mendesak dan menuduh bahwa saya adalah kerabat dari Ny TAN EK LING dan melontarkan ancaman-ancaman tidak pantas. Debt collector tersebut yang tidak bersedia menyebutkan namanya terus melakukan teror siang-malam yang mengakibatkan saya depresi.
Kemudian saya menghubungi Sdr Pandi untuk mencari solusi diantaranya, sata mohon agar PT Excelcomindo Pratama Tbk menerbitkan surat keterangan bahwa saya adalah pelanggan baru yang mengunakan nomor Xplore tersebut dengan tujuan agar dapat saya pergunakan sebagai penjelasan kepada pihak Citibank.
Ternyata, Sdr Pandi selaku perwakilan dari pihak Excelcomindo menyatakan pihak Excelcomindo tidak dapat menerbitkan surat keterangan yang saya maksudkan. Bahkan dia menawarkan untuk mengganti nomor cantik tersebut dengan membayar ulang. Tentu saja saya menolak karena pada awal penawaran tidak disebutkan adanya risiko seperti ini ke depan.
Tidak tahan atas teror yang semakin berlanjut, akhirnya pada 18 Maret 2008, saya memutuskan melunasi semua tagihan dan menutup nomor langganan kartu Xplore tersebut. Saya mengalami kerugian material dan nonmaterial akibat teror dari debt collector Citibank yang tidak pantas dan PT Excelcomindo Pratama Tbk yang tidak berusaha membantu saya selaku pelanggan.
Sampai saat ini, saya tetap berpikiran bahwa pihak Excelcomindo hanya mengambil keuntungan dari kartu yang telah mati kemudian melakukan recycle kembali tanpa kualitas untuk membuat pelanggannya nyaman. Sebab, saya hanya menerima email berisi janji akan memeriksa kartu Xplore, tanpa memedulikan kerugian pelanggan.
Dengan pengalaman saya alami ini, saya ingin mengimbau agar para pembaca lebih berhati-hari dalam memilih produk. Saya juga sekaligus mengimbau pihak Excelcomindo untuk meningkatkan tanggung jawab dan kualitas pelayanannya terhadap pelanggan.
Rudy Wibisono
Telp : 021-54353111/94127497
Ex pelanggan paket layanan Xplore Price Plan
No kode pelanggan : 509196735
Email : rudywbisana@gmail.comDi post di surat pembaca Seputar Indonesia
Mesin debit rusak, hak konsumen dirugikan
Saya adalah pengguna kartu debit Mandiri dengan nomor kartu 116-00-0513189-2. Pada 31 Maret 2008 pukul 20.00 WIB, kami sekeluarga berbelanja di Alfa Kebon Jeruk. Saya tertarik dengan promo belanja minimal Rp.200.000 akan mendapatkan minyak goreng 2 liter gratis jika membayar dengan kartu debit mandiri. Setelah belanja senilai Rp. 268.000 kasir bilang ke saya “wah bapak dapat minyak goreng gratis nih“.
Kemudian saya menyerahkan kartu debit mandiri dan kemudian digesek oleh kasir, ternyata mesin debitnya tidak berfungsi (dengan pesan malfunction). Kemudian kasir mencoba mendebit dimesin lain, namun hasilnya sama saja. Saya bertanya “GImana nih?” lalu sang kasir menyarankan untuk membayar secara tunai saja. Saya pun bergegas ke ATM BCA karena saya hanya membawa yang Rp. 50.000.
Setelah akhirnya membayar dengan uang tunai, saya bertanya “dapat minyak goreng ga?” Dengan santai jasir menjawab “yah nggak lah pak kan bayarnya tunai. Kalau mau minyak goreng bapak beli aja cuman Rp. 18.750″. Kontan sata protes “lho, kan yang salah bukan saya kok jadinya saya yang di korbankan?”. Lalu kasir terus berargumen yang intinya saya tak bisa dapat minyak goreng yang seharusnya menjadi hak saya karena mesin debit Mandiri sedang bermasalah.
Akhirnya saya merelakan saja masalah tersebut, karena tak ada gunanya juga berdebat dengan kasir. Namun, kejadian ini membuat sata kecewa terhadap Bank Mandiri. Ketidakmampuan Bank Mandiri untuk menyediakan alat yag reliable akhirnya mengorbankan hak saya sebagai konsumen. Sebagai bank yang ternama, sudah seharusnya Bank Mandiri menjaga nama baiknya dengan memberikan pelayanan maksimal kepada konsumen yang telah mempercayainya.
Mochammad Sofian
Jalan Bintaro Utama Raya sektor 1
Mesjid Jamie Bintaro Jaya sektor 1
lantai 2 Jakarta 12330Di post di surat pembaca Seputar Indonesia
Comments (2)
Comments (10)
Leave a Comment
