Calo tilang memacetkan jalan
Dari salah satu koran saya tahu, pada hari-hari tertentu Pengadilan Negeri Surabaya penuh sesak. Ada kurang lebih 5.000 orang yang antre untuk sidang tilang. Keadaan ini sangat menggangu sidang-sidang perkara serius dan memacetkan lalu lintas di jalan Arjuna.
Mengapa pihak pengadilan tidak berpikir untuk menyelenggarkan sidang pada malam hari untuk kasus-kasus tindak pidana ringan atau sidang tilang? Pada waktu sore dan malam hari gdeung pengadilan tidak digunakan. Daripada mubazir lebih baik dimanfaatkan untuk kepentingan dan kemudahan bagi masyarakat.
Tentu hakim dan panutera yang bertugas harus diberi insentif dan uang lembur. Misalnya sudang malam dilakukan mulai pukul 16.00 dan berakhir pukul 21.00. Di Singapura, hal ini sudah lama dilaksanakan dan dinamakan “Night Court“.
Jika pengadilan malam dimungkinkan, maka keabsahannya perlu diatur dengan SK (Surat Keputusan) dari departmen terkait, antara lain tentang honor dan jam kerja tambahan.
Pemasukan dari denda tilang dan tindak pidana ringan pasti cukup untuk membiayai pengeluaran ini, termasuk biaya PLN karena penggunaan listrik pasti bertambah. Keuntungannya, hakim dan penitera yang bertugas yang bertugas mendapatkan tambahan penghasilan halal, masyarakat dapat melakukan aktivitas hariannya, calo-calo tidak perlu ada lagi, jalan di dekat pengadilan tidak macet, ladang parkir yang sempit dapat digunakan untuk mereka yang memang ada keperluan di pengadilan, petugas parkir dan satpam pun dapat rezeki tambahan.
Markus Sajogo SH
Jalan Untung Suropati 64
SurabayaDi post di surat pembaca Seputar Indonesia
No comments yet
Leave a reply
