Saya adalah pelanggan VIP Matrix-Indosat Blackberry. Pada Senin (28/4), telepon selular (ponsel) Palm Treo 750V saya mengalami masalah dengan spekaer-nya. Karena masih dalam masa garansi, maka oleh pihak penjual, C Plam-Plaza Senayan, diganti dengan unit yang baru.

Sebagai pelanggan Indosat yang memakai fitur Blackberry maka saya harus melakukan regstrasi atau change device di website indosat,blackberry.com. Karena kegiatan saya banyak diluar kantor, maka saya pikir langkah terbaik adalah menghubungi customer service (CS) Indosat untuk dibantu dalam langkah-langkah ini.

Pada selasa (29/4) pagi, saya coba menghubungi call center dan diberitahukan bahwa person incharge untuk bagian Blackberry sedang offline. Saya menyanggupi, karena memang pada hari itu saya tidak akan terlalu banyak bekerja denngan email dari fasilitas Blackberry. Pada Rabu (30/4) pagi, saya mencoba menghubungi lagi. Mereka berjanji akan meminta pihak Blackberry menghubungi saya. Namun, sampai mendekati siang masih belum juga ada feedback. Akhirnya saya kembali menghubungi Indosat.

Baru pada sekitar pukul 12.00 WIB, saya dihubungi Indosat namun tak terangkat karena ponsel jauh dari saya. Hingga hampir 30 menit kemudian tak ada lagi telepon lagi dari Indosat. Saya pun kembali menghubungi mereka. Baru pada pukul 13.15 WIB, saya dihubungi, dan mereka mengatakan sudah mengirimkan email yang berisi langkah-langkah registrasi tersebut. Namun, berulang kali saya katakan kepada mereka bahwa saya tidak bisa connect ke internet sehingga tidak bisa melihat email tersebut maupun connect ke Indosat Blackberry untuk melakukan hal tersebut.

Bapak Sutisna dari Indosat berjanji akan mengirimkan email kembali berisi software untuk ponsel saya. Namun setelah menunggu lagi sekitar 3 jam, software yang dijanjikan tak kunjung terkirim.

CS Indosat pun memperlakukan saya secara tidak professional. Hari ini (30/4), dua kali saya mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari CS Indosat, yaitu saudara “R”. Dia bertele-tele dan membiarkan telepon saya sempat selama lebih dari 4 menit dengan alasan pengecekan data. Akhirnya, saya tutup telepon tersebut.

Setelah itu, Bapak Sutisna menelepon dan mengaku sedang dijalan. Dia menyuruh saya untuk melakukan langkah-langkah yang dimaksud, namun kalau tidak bisa atau ada masalah lagi, beliau mempersilakan kita untuk menelopon kembali.

Akhirnya, meskipun Blackberry sudah bisa, namun kami masih kesulitan dalam menganti IMEI dan PIN sehingga masih belum bisa terdaftar. Saya menghubungi Indosat kembali dan ternyata diterima saudara “R” kembali yang tampaknya emosinya sedang tinggi, hingga saya bisa mendengar desahan nafas yang ditahan karena menahan amarah. Suara tingginya tersebut tertangkap jelas dan saya anggap sebagai perlakuan yang tidak sopan.

Saya tidak terima dengan perlakuan tersebut. Sebagai CS VIP Indosat, sebaiknya tidak boleh berlaku kasar terhadap pelanggan. Saya sama sekali tidak mengeluarkan kata kata kasar. Saya hanya bilang kalau saya capek menghubungi Indosat terus, namun tidak juga ada tindak lanjut. Saya pikir sebaiknya yang bersangkutan sebagai CS tahu cara melayani pelanggan dengan baik.

Noorina
Jakarta

Di post di surat pembaca seputar indonesia 

Pada 8 April 2008, kami dari tim Hewlett-Packard (HP) Indonesia memilih menggunakan jasa penerbangan Cathay Airlines sebagai transportasi kami ke Beijing dalam rangka menghadiri pertemuan bisnis.

Jadwal penerbangan kami direncanakan pada pukul 08.40 WIB menuju Hongkong. Selanjutnya, transit hingga pukul 16.45 kemudian tiba di Beijing International Airport pukul 19.55 waktu setempat. Namun, penerbangan diundur karena ada penundaan penerbangan selama satu jam.

Ternyata penundaan ini terus molor. Akhirnya sekitar pukul 13.00 WIB, pihak Cathay Airlines mengumumkan pembatalan penerbangan dan mengumumkan penerbangan pengganti pada pukul 15.00 WIB dengan konsekuensi kamu harus bermalam di Hong Kong dan baru pagi harinya diterbangkan ke Beijing. Kami keberatan, mengingat apabila memilih opsi tersebut, kami baru sampai ke Beijing pukul 12 siang (9 April) dan kami kehilangan banyak hal berhubungan dengan keperluan aktivitas bisnis kami.

Akhirnya, kami meminta Cathay Airlines untuk memindahkan kami ke jasa penerbangan lain. Namun, unuk urusan ini pun tampaknya pihak Cathay Airlines tidak bisa memberikan layanan yang memuaskan. Kami dioper dari konter tiket penerbangan satu ke konter lain.

Ketidakprofesionalan ini mengakibatkan kami kehilangan kesempatan unuk menggunakan jasa penerbangan Singapore Airlines pada pukul 12.00 WIB karena mereka tidak bisa memberikan keputusan. Begitu pula kesempatan menggunakan jasa Garuda Indonesia pada pukul 13.00 WIB hilang karena yang tersedia hanya kelas bisnis dan pihak Cathay Airlines tidak bersedia melakukan kompensasi. Tindakan ini melukai apresiasi kami yang menilai mereka tidak menghargai customer dan lebih mementingkan untung-rugi dari perspektif mereka sendiri.

Setelah kami melakukan protes keras, akhirnya pihak Cathay Airlines beru bergerak menyuruh kami kembali ke konter Garuda Indonesia dengan mendorong 2 troli berisi 11 koper. Namun sesampainya di konter tersebut, mereka menginformasikan bahwa mereka telah mendapatkan tiket Singapore Airlines. Untuk itu kami harus kembali menuju konter Singapore Airlines yang jaraknya sangat jauh. Masalah kembali muncul ketika sampai dikonter Singapore Airlines kami dinyatakan sudah sangat terlambat.

Kami tetap tidak memperoleh kepastian hingga mereka member opsi selanjutnya: kami disuruh mengejar penerbangan ke Singapore dengan menggunakan Garuda Indonesia penerbangan pukul 19.00 WIB.

Opsi yang sangat tidak menghargai kepentingan kami. Yang kami juga sesalkan, setiap kami menyampaikan keluhan, pihak Cathay Airlines malah saling menyalahkan.

Bahkan yang lebih melukai perasaan kami, salah satu Manajer mengatakan : “ Maaf ya bu, saya baru disuruh membantu sekarang karena harus membantu customer-customer yang lain.” Karuan saja, tanggapan tersebut membuat kami kian tersinggung.

Sebagai customer yang sama-sama melakukan kewajiban membayar, namun ternyata hak kami dibedakan. Kami tidak mendapat prioritas yang sama di tengah keperluan yan tidak kalah penting dari mereka.

Akhirnya, setelah di pingpong kesana kemari selama lima jam dengan penyelesaian yang tidak professional, kami diberi kompensasi berupa tidak kelas bisnis Garuda Indonesia penerbangan pukul 15.00 WIB tujuan Singapura dan kami dapat mengejar penerbangan ke Beijing pukul 01.00 dini hari dan tiba di Beijing pukul 08.00 pagi (9 April).

Mengingat hari berikutnya ada tim customer HP yang akan berangkat ke Beijing juga, kami menyarankan kepada Manager on Duty hari itu, Ibu Jenny, agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Namun Ibu Jenny memberikan komentar yang menurut kami sangat jauh dari memuaskan. Ibu Jenny mengatakan bahwa dia bukan peramal yang bisa meramalkan kejadian masa depan. Padahal maksud kami agar Cathay Airlines mempersiapkan perencanaan yang baik sehingga peristiwa yang telah menimpa kami tidak terulang.

Hilwina Agita
Hewlett-Packard Indonesia

Di post di surat pembaca seputar indonesia  

Pada 27 Maret 2008 saya ditelepon oleh seseorang yang mengaku bernama Ririn dari PT Nusantara Mitra Indonesia (NMI) yang berkantor di Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati, Jakarta Selatan. Dia mengaku mendapat rekomendasi Mastercard untuk memberikan voucher kepada saya. Kemudian telepon dialihkan ke orang lain untuk melakukan validasi data. Setelah itu saya dikenakan biaya sebesar Rp. 2.580.000.

Kami lalu menjelaskan bahwa saldo yang kami miliki tidak mencukupi untuk membayar sebesar itu. Tetapi yang bersangkutan mengatakan bahwa saldo mencukupi karena transaksi sudah di debet dan bsia diangsur 3-4 tahun, bebas sesuai kemampuan.

Karena yang bersangkutan ngotot dan mengakhiri pembicaraan, saya berpikir kalau limit kartu saya tidak cukup pasti mereka akan menghubungi saya kembali. Ternyata traksaksi tersebut dipecah-pecah dan dibebankan kedua kartu kredit saya. Kurang lebih dua jam setelah NMI menghubungi, saya menghubungi PermataTel untuk membatalkan dan memblokir transaksi yang masih status pending tersebut.

Menurut pihak NMI, transaksi tersebut tidak bisa dibatalkan lantaran sudah benar sesuai harganya, yaitu : Rp. 2.580.000. Bahkan pihak NMI mengatakan bahwa saya salah persepsi mengenai angsuran yang dibicarakan. Mereka mengatakan bahwa arti bisa diangsur 3-4 tahun adalah beas mengangsur kepihak kartu kredit, sampai 10 tahun juga boleh, mau bayar bunga atau denda atau tidak membayar juga terserah. Pihak NMI juga mengatakan mereka bisa membebankan ke kartu kredit kita manapun secara otomatis, asal di terbitkan oleh MasterCard karena mereka bisa online langsung dengan MasterCard.

Akhirnya saya mengurus masalah ini ke Bank Permata. Saya mengirimkan pembatalan, sanggahan, dan bukti pengembalian kiriman sudah kami sampaikan ke GE Card Center, Bank Permata dan NMI. Namun hingga hari ini transaksi tersebut masih ditagihkan. Ternyata penipuan dengan modus yang sama juga sudah pernah dilakukan NMI dan pernah diterbitkan disurat pembaca salah satu harian nasional Indonesia.

Saya kecewa sekali dengan Mastercard yang memfasilitasi merchant dengan kredibilitas seperti PT NMI dan lembaga perbankan di Indonesia yang membiarkan dan mengayomi pelaku usaha nakal. Sebagai tambahan, sampai hari ini saya sebagai nasabah Bank Permata tidak pernah bermasalah atau terlambat membayar.

Sayangnya pelaku bisnis seperti NMI ini sulit diproses secara hukum, meskipun melanggar KUHPerdata, pidana, bahkan UU No.8/1999 sekalipun. Kalau diadukan ke polisi, justru kita yang sudah korban malah kita yang kerepotan karena proses yang berbelit menghabiskan tenaga, biaya dan pikiran sedangkan NMI bisa melenggang bebas.

Mohammad Nazar Ali
Surabaya
monaz@telkom.net

Di post di surat pembaca seputar indonesia  

Keluhan Esia

Selama ini, Bakrie Tel sangat mengecewakan saya, sudah 8 bulan saya menunggu jawaban atas keluhan kartu Esia saya, yang pulsanya menjadi nol dari saldo pulsa sebelumnya Rp. 68.545. Pada pertengahan Juli-Oktober 2007, saya telah mendatangi Gerai Esia Roxymas (Ibu Devie, Bp Indra K, Bp Dandy, Bp Ferry) dan mendapat jawaban bahwa masalah tersebut terjadi karena sistem. Hal ini sungguh aneh karena kartu Esia saya masih bisa menerima panggilan (incoming) dan bisa isi pulsa. Ada apa dengan sistem Esia sehingga merugikan saya?

Karena alasan tersebut masih belum bisa memberi jawaban atas apa yang terjadi pada kartu Esia sata. Pada 14 November 2007 dan 18 Januari 2008, saya mengajukan keluhan secara tertulis. Pada 21 Januari 2008 da 23 Januari 2008, saya dihubungi Bakrie Tel (Ibu Devie dan Bp Indra K) untuk mendata ulang kartu Esia saya (padahal nomor-nomor kartu Esia saya telah saya berikan pada bulan Juli lalu). Pelayanan ini sungguh mengecewakan karena saya dijanjikan akan dilakukan investigasi masalah ini (pada aat kedatangan pihak Bakrie Tel tanggal 19 November 2007) tapi kenapa didata lagi? Apakah begini cara kerja Bakrie Tel?

Dengan gencarnya Esia mengiklankan program dan perang tarif dengan slogan “tolak yang mahal, ambil yang untung!” Apakah ini dibarengi dengan pelayanan konsumen? Mohon pihak Bakrie Tel memberikan penjelasan rasional da profesional sebagai bentuk pelayanan dan tanggung jawab kepada konsumen.

Popy Su
Jalan Cipinang Elok Blok H No.1
jakarta Timur
0812-8378388, 021-70474744

Di post di surat pembaca seputar indonesia 

Saya mengirimkan dokumen ke agen perusahaan kami di Lhokseumawe, Naggroe Aceh Darussalam dengan menggunakan jasa pengiriman PT Pandu Siwi Sentosa pada 22 Maret 2008 dengan nomor AWB 42527252. Agen perusahaan kami ternyata belum menerimanya. Sampai 10 hari, barang tersebut belum sampai ke alamat yang dituju. Padahal, di list seharusnya diterima selambat-lambatnya 3 hari. Setelah saya cek ke PT Pandu Siwi Sentosa paket dengan nomor tersebut tidak terdaftar. Alasannya, petugas pengambila barang (kurir) mengejar keberangkatan pesawat sehingga tidak sempat registrasi ke kantor.

Salah satu pegawainya meminta saya mengefaks Faktur pengirimannya. Pegawai tersebut meminta saya untuk menunggu. Dia menjanjikan akan mengkonfirmasi via telepon. Selang beberapa hari, saya melakukan konfirmasi ulang. Ternyata jawabannya sama, dan kembali meminta saya mengirimkan faks faktur pengirimannya.

Saya sangat kecewa dengan layanan yang diberikan. Apakah memang demikian pelayanan PT Pandu Siwi Sentosa terhadap customer-nya ? Terlebih perusahaan kami adalah member PT Pandu Siwi Sentosa, mereka seakan-akan tidak mau tahu dengan klaim yang saya ajukan. Perlu diketahui, perusahaan kami secara materi dan nonmateri sangat dirugikan dengan kejadian ini. Apalagi kerjadian ini bukan yang pertama kali dilakukan PT Pandu Siwi Sentosa.

Muslih Al Azhar
Divisi Produk & Expedisi
PT Mitra Permata Mandiri

Di post di surat pembaca Seputar Indonesia 

Saldo di Mandiri berkurang

Saya nasabah Bank Mandiri cabang Pasar Rebo, Jakarta Timur (Nomor rekening: 129 000 130 7120). Saya datang tanggal 20 February 2008 untuk mengecek saldo tabungan yang pada tanggal 16 November 2006 tercatat Rp. 3.272.402,79, tetapi pada tanggal 20 February 2008 ternyata saldo tercatat Rp. 1.236.832,33. Padahal, dari tanggal 16 November 2006 sampai dengan kedatangan terakhir itu tidak pernah saya cetak buku tabungan karena kesibukan.

Baru pada tanggal 20 Februari 2008 saya datang ke Bank Mandiri cabang Pasar Rebo, Jakarta. Sata sudah menanyakan kepada dua petugas di layanan pelanggan (Saudari Manci dan Saudari Diah) tentang saldo tabungan yang semakin berkurang dengan jumlah yang tidak sedikit, yaitu Rp. 2.075.176,04. Dijawab, karena perhitungan kumulatif tidak pernah cetak saldo. Apakah sampai sebesar itu nilai kerugian yang harus ditanggung ?

Kemudian dijanjikan kembali lagi selama satu minggu untuk mengetahui lebih lanjut. Seminggu kemudian saya datang lagi ke bank tersebut, tapi ternyata sampai saat ini tidak ada juga laporan saldo yang dijanjikan.

Dengan kejadian ini mohon perhatian dan penjelasan dari yang berwenang di Bank Mandiri cabang Pasar Rebo agar tidak merugikan nasabah.

Sulistiyowati
Jalan Centex gang Garuda
RT 005 RW 010, Ciracas, Jakarta

Di post di Redaksi Yth Kompas

Saya sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan Customer Service XL. Pelayanan yang mereka berikan kepada pelanggan sepertinya sama sekali tidak mementingkan keberadaan pelanggan.

Pada sabtu (05/04) pukul 17.48, saya melakukan panggilan ke 817 yang merupakan layanan berbayar XL utuk melakukan komplain. Saat itu saya diterima oleh operator bernama Iis.

Saya bermaksud menyampaikan keluhan karean salah satu nomor XL saya dengan nomor 081905098xxx tidak bisa melakukan isi ulang voucher fisik dengan nomor seri 0858 6200 0110 0xxx dengan nominal sepuluh ribu rupiah (Rp. 10.000).

Saya menceritakan kepada Sdri. Iis bahwa ketika mengisi pulsa melalui SMS selalu dijawab dengan pesan ” sorry the service is not available“.Sdri Iis menyarankan sata agar mengirim SMS ke 5566 dengan format “REGULAR on”, bukan “REGULERon” seperti yang pernah di informasikan oleh customer service representative sebelumnya.

Kemudian saya mencoba saran tersebut, SMS terkirim dan ada reportnya tapi tak ada balasannya. Saya juga disarankan untuk menunggu sampai 30 menit. Setelah itu Sdri Iis menutup sambungan telepon tersebut. Hal itu tentu membuat saya marah, karena saya belum bermaksud untuk menyudahi telepon tersebut. Masih ada hal yang ingin saya tanyakan.

Apakah begini cara customer service representative XL melayani customernya ? Padahal, saya menelepon tidka gratis (permenit dikenakan Rp. 350). saya rasa cara yang ditempuh Sdri Iis sangat tidak menyenangkan. Saya rasa XL harus lebih memedulikan keluhan pelanggannya yang bisa menjadi masukan untuk meningkatkan kinerja XL dalam memuaskan pelanggannya.

Azfari
Komp BULOG Pondok Gede,
Jalan raya Hankam,
Jati Melati, Pondok Melati, Bekasi

Di post di surat pembaca Seputar Indonesia 

Kami sekeluarga ke Carrefour Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (20/3), sekitar pukul 13:00 karena tergiur iklan Carrefour di Kompas (19/3) tentang semua alat listrik dan pertukangan diskon 40 persen dan ada 10 pesen diskon dari total belanja yang nilai tertera di setruk dan bisa digunakan untuk berbelanja kembali. Suami saya membeli peralatan pertukangan dengan label harga sebelum diskon, dan dua potato chip merek Pringles kaleng dengan tulisan harga kedua diskon 50 persen.

Saat dikasir ternyata alat-alat pertukangan tidak ada diskon otomatis dan juga potato chip tetap harga normal. Setelah dikomplain petugas kasir mengatakan, diskon tetap berlaku, tetapi sistem komputer belum di up-date lalu menyarankan agar membayar penuh dengan total Rp. 660.700, diskon akan dihitung dan kelebihan yang dikembalikan oleh layanan pelanggan dibagian informasi yang hanya ada lima petugas sangat tidak siap dengan promo tersebut.

Sata dilayani oleh salah seorang dan setelah menunggu 20 menit, ternyata belum juga memproses diskon. Menurut yang bersangkutan, masih bingung karena belum lama bekerja. Lalu menyerahkan setruk saya kepada rekannya yang ternyata tidak juga memberikan hak saya. Setelah saya komplain karena sudah menunggu 20 menit lagi petugas itu mengatakan diskon 40 persen akan memakan waktu yang lama karena komputer belum up-date.

Yang bersangkutan harus bolak balik cek barang terlebih dulu, lalu menganjurkan untuk batal saja dan uang kembali. Karena saar itu saya membawa dua anak balita dan satu bayi yang terus menanggis karena tidak nyaman, saya menerima usulan tersebut. Ternyata proses batal harus menunggu 20 menit lagi. Saya sudah lelah dan kesal, juga anak-anak sudah sangat rewel. Akhirnya setruk pembatalan diberikan setelah menunggu total satu jam.

Nina Aryani
Gading Pelangi Indah C 3B/3
Jakarta Utara

Di post di Redaksi Yth Kompas 

Kejadian bermula ketika saya ditawari setengah memaksa pada tanggal 20 Januari 2008 di Superindo Arteri Kedoys, Jakarta barat, untuk membuat kartu kredit ABN-AMBRO dengan cara setruk pembayaran diamnil dan di fotokopi oleh sales ABN-AMBRO. Dijanjikan akan diberikan kartu platinum dengan bebas iuran seumur hidup.

Kurang dari seminggu datang kartu, tetapi kartu jenis gold. Saya menelepon ABN-AMBRO dan menyatakan tidak mau karena kartu gold tidak bebas iuran sehingga kartu tidak saya aktifkan. Kemudian saya di telepon ABN-AMBRO sekitar empat kali pada hari yang berbeda-beda yang menanyakan, apakah kartu sudah di terima dan meminta agar mengaktifkan. Namun, saya jelaskan tidak mau karena kartu gold.

Tanggal 23 Februari 2008 saya di telepon oleh ABN-AMBRO yang mengatakan, pada hari itu akan datang kurir yang akan mengambil kartu gold lengkap dengan amplopnya untuk di proses menjadi kartu jenis platinum. Kurir datang dan kartu diambil.

Pada 27 Februari 2008 ada telepon dari ABN-AMBRO yang mengatakan, kartu kredit gold atas nama saya dipakai untuk belanja dan penarikan tunai. Saya jelaskan tidak dipakai dan kartu sudah dikembalikan untuk di proses menjadi kartu platinum. Tiba-tiba tanggal 8 Maret 2008 datang tagihan ke rumah saya sebesar Rp. 15.203.565 atas nama pemakaian kartu kredit ABN-AMBRO.

Kemudian saya menelepon ke Phone Banking ABN-AMBRO untuk megajukan komplain, tetapi malah menyalahkan saya dan tidak memberikan penyelesaian ap-apa. Pada tanggal 13 Maret 2008 saya telepon Phone Banking lagi untuk menanyakan hasil investigasi, dan dijelaskan sudah ditutup dengan hasil saya yang harus membayar tagihan tersebut.

Saya sangat keberatan dengan cara kerja ABN-AMBRO yang seenaknya menututp kasus dan menyalahkan saya. Seharusnya ABN-AMBRO menyelidiki pihak internalnya sendiri dan mengumpulkan bukti-bukti.

Lim Siau Hun
Jalan Surya Wahana I
RT 007 RW 002, kebon Jeruk
Jakarta Barat

Di post di Redaksi Yth Kompas 

Pada sabtu malam, 8 Maret 2008, kami menghadiri resepsi pernikahan di Pendopo Agung Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Ketika masuk di pintu gerbang TMII memperlihatkan surat undangan dan diwajibkan membayar Rp. 3.000 hanya untk parkir mobil.

Hari sabtu malam, 22 Maret 2008 kembali saya menghadiri resepsi pernikahan di tempat yang sama. Kali ini di pintu gerbang terjadi kemacetan.

Kenapa macet? Setelah kami memasuki pintu gerbang diharsukan membayar Rp. 10.000. Mungkin setiap tamu juga mempertanyakan sehingga terjadi kemacetan. Ketika kami bertanya kepada petugas dipintu gerbang masuk, diawab bahwa pembayaran masuk merupakan peraturn baru dari manajemen TMII.

Beberapa waktu lalu kami juga sering menghadiri acara resepsi pernikahan di Pendopo Agung Sasono Utomo TMII. Namun, ketika melewati pintu gerbang masuk hanya dengan memperlihatkan surat undangan langsung bisa masuk dan lalu lintas tidak macet. Apakah keharusan membayar uang tanda masuk pada malam har merupakan kebijakan TMII atau hanya kebijakan oknum tertentu?

Kalau merupakan kebijkan TMII perlu dijelaskan kepada khalayak, kalau masuk ke TMII pada malam hari tetap membayar Rp. 10.000 karena pada malam hari juga ada pertunjukan atau kegiatan seperti siang hari. Kami bisa memahami mungkin untuk menutupi biaya pemeliharaan. Namun, kalau merupakan ulah oknum tertentu, perlu dilakukan penghasutan demi menjaga citra TMII.

Darhansyah
Pondok Kopi D9, Duret Sawit
Jakarta

Di post di Redaksi Yth Kompas 

Next Page »